Tuesday, September 26, 2006

Zakat dan Ingkar Muzaki

Membuat miskin, ternyata jauh sangat mudah ketimbang menanggulanginya.Tanpa sadar pun, sikap kita bisa-bisa telah turut mengkondisikankemiskinan. Uang yang kita peroleh, misalnya, tanpa dizakati manfaatnyahanya terasa untuk sendiri. Kalaupun sebagian telah disisihkan, buatmembayar pembantu atau untuk sosial, sifatnya hanya sekadar menolong.

Gaji pembantu, sudahkah dibayar sesuai dengan haknya? Mengingat kulturkita yang masih feodal, status pembantu tak lebih dari hamba sahaya.Akibatnya, imbalan yang diperoleh, lebih berlandaskan subyektifitas, bukanatas hak dan kewajiban. Lalu, kalau pun dana untuk sosial telahdialokasikan, jujur saja, persentasenya cenderung kecil. Juga, apakah danasosial tersebut telah tersedia setiap bulan?

Bila dikuak, soalnya memang bermuara pada cara berpikir selama ini. Bahwadalam menanggulangi kemiskinan, penanganannya hanya sekadar kerelaan.Karena sifatnya sekadar menolong, hukum zakat yang wajib pun ditepis jadisunah. ''Landasan menolong adalah kerelaan, bukan paksaan. Bila tak rela,nilai ibadah akan sia-sia,'' dalih mereka.

Padahal kedudukan zakat, sama wajibnya dengan shalat. Zakat diwajibkan,karena umat dituntut mengatasi kesulitan ekonomi kalangan miskin. Jadikalau ada hadits mengatakan shalat merupakan tiang agama, mungkin bolehdikatakan zakat menjadi tiang kepedulian. Lalai shalat, berarti meruntuhkanagama. Tak mau berzakat, artinya telah memberi andil dalam prosespemiskinan. Sesungguhnya, zakat punya kelebihan dibanding rukun yang lain. Zakatmemiliki dimensi ganda. Sebuah ibadat yang bukan melulu terkonsentrasikepada Allah SWT. Melainkan manfaatnya, langsung dapat dirasakan mustahik(yang berhak menerima). Sementara shalat, puasa, dan berhaji, semata-matamemang hanya untuk kepentingan pelaku. Namun, justeru kepentingan inilahyang jadi soal.

Untuk haji atau shalat, berapapun kebutuhan biaya, tetap akan dipenuhi. Sebab yang merasakan nikmat haji adalah yang melaksanakan. Sedang zakat,menjadi tidak populer karena mengambil sebagian rejeki untuk disalurkankepada orang lain. Karena bukan untuk diri sendiri, muzaki (pezakat)menjadi tak rela. Inilah yang dinamakan ingkar muzaki (orang mampu takmau berzakat), tak rela hingga tak percaya jika zakat itu wajib.

Pada akhirnya, ingkar muzaki tak hanya sebatas enggan memaruh rejeki.Melainkan juga mengarah pada cara sikap hidup. Dalam berniaga, pikirnyahanya mencari laba. Seluruhnya dikonsentrasikan buat meraup laba. Bilaperlu menekan biaya operasional, termasuk memangkas upah karyawan. Wanitadan anak-anak dieksploitasi, seperti cukup diberi makan atau sekadarpengganti transpor saja.

Dalam menjalankan bisnis dengan pihak lain, nuansanya juga tak beda. Untukmengulang sukses, berbagai cara dihalalkan. Tak lagi peduli akan etika,moral dan aturan main. Akhirnya, semua larut dalam memacu diri. Yangtumbang salah sendiri, kenapa tak bisa melihat peluang. Terobosan terus disiasati, keberhasilan di satu sektor merangsang usaha menjadi lebihdiversifikasi.

Dalam kondisi begini, istilah zakat bagai menghentak. Pertanyaannyamenjadi, siapa yang harus menangani orang jompo, cacat, ataupun anak yatim?Untuk menanggulangi mereka itu atau mustahik lain, Islam mewajibkan zakat.Jelas, zakat menentang penyisihan rejeki berdasarkan suka rela. Membiarkanorang miskin dalam kerelaan, sama artinya dengan penelantaran. Dan kerelaansi kaya, cenderung tak berarti apa-apa. Dengan kemurahan hati, kemiskinanmustahil ditanggulangi. Trickle-down effect, misalnya, ternyataterbukti tak punya kontribusi. Malah harus dihujat karena rembesannyaditampung oleh kelompok sendiri.

Penunaian zakat, merupakan karakter orang beriman. Dalam konteks hubungandengan Allah SWT, itu menjadi tanda ketaqwaan. Sedang imbasnyamemperlihatkan sifat pemurah, kasih, serta santun untuk peduli padamasyarakat. Dalam sebuah riwayat, Nabi Muhammad SAW bersabda: ''Zakatmerupakan bukti keimanan''.

Sebaliknya ingkar muzaki, merupakan ciri munafik. Sebab zakat menjadigaris pemisah antara muslim dan non-muslim, iman dan nifak, serta taqwa dandurhaka. Allah SWT menegaskan: ''Dan pada harta-harta mereka, ada hak untukorang miskin yang meminta, dan orang miskin yang tidak memperoleh bagian (adz Dzariyat: 19).

Dalam menanggulangi kemiskinan, zakat akhirnya memang menjad bagian penting. Dalam sebuah riwayat hadits, Allah bahkan mengibaratkan sebagaiorang miskin yang menuntut hak zakat. Dalam pemahaman ini, hak merupakanhutang pada Allah yang harus dibayar. Karena hak Allah, Dia sendiri yangmenghitung prosentase penerimaan dan pengeluaran zakat. Beberapa ulamamengatakan: ''Kaum miskin adalah tanggung jawab Allah, muzaki merupakanperbendaharaan Allah''.

Imbas ingkar muzaki ternyata tak berhenti di situ. Mereka juga takpercaya bahwa pengelolaan ZIS (zakat, infak-sedekah) harus dilakukan amil(pengelola). Dalam benak mereka, lebih afdol kalau menyerahkan langsungpada si miskin. Argumennya, bisa ketemu dan langsung mengontrol. Padahalitu cuma sekadar dalih, dari sebuah keakuan, agar tangan di atas bisadiketahui. Niat promosinya, tetap ada udang di balik batu. Kalau diam-diambuat apa, sebab tak ada manfaat sosialnya.

Seperti Yusuf Qardhawi katakan, ZIS harus dikelola oleh amil. Haknya puntelah digariskan sebagai satu bagian dari mustahik. Artinya, Islam telahmenangani soal ZIS ini dengan profesional. Lantas, mengapa kita masihkhawatir? Justeru karena khawatir, pengelolaan ZIS menjadisetengah-setengah. Akibatnya menjadi tak populer dan bersifat sambilan.

Dengan sambilan, bisakah dijamin profesionalitasnya? Pertama,pemasyarakatan ZIS cenderung tak optimal. Potensi dana ZIS umat IslamIndonesia, misalnya, tentu sulit bisa dihimpun. Padahal jumlahnya sangatluar biasa. Akibatnya, kalangan miskin tetap terlantar, tidak tersentuhdana ZIS yang masih mengendap di kocek para muzaki. Dalam kontekspemanfaatan ini, yang paling rugi adalah kalangan miskin juga. Inilahdampak lanjutan dari pengelolaan ZIS secara sambilan.

Untuk merubah citra asal-asalan, kita memang butuh tenaga amil. Agar profesional, tenaga itu harus punya kualifikasi, sama seperti yangdibutuhkan manajemen saat ini. Ada tenaga akuntansi, pembiayaan, kasir,pemasaran, dan seorang manajer yang punya visi bisnis. Bahkan denganlandasan taqwa, amanah, serta paham akan konsep kemaslahatan, amil ZISpunya kualifikasi lebih. Sebab, tak perlu lagi diciptakan perangkatpengontrol keuangan tercanggih. Waskatnya (pengawasan melekat) sudahlangsung dipantau malaikat kanan dan kiri. Sementara, berapa biaya yangdibutuhkan sebuah perusahaan raksasa dalam membuat jaringan kontrol.

Di sisi lain, amil dibutuhkan karena beberapa faktor di bawah ini:

Pertama, hati nurani manusia, kebanyakan telah mengeras. Cinta dunia dan egois, telah menenggelamkan fitrah manusia untuk saling kasih.

Kedua, bila mustahik mengambil zakat dari amil, kehormatan danmartabatnya tetap terjaga. Bila langsung ke muzaki, tangan di atas cenderung melecehkan.

Ketiga Islam menetapkan sistem Baitul Maal. Dengan harapan, berbagaidana yang dihimpun dapat dikontribusi dengan tepat.

Lantas, bukankah DD (Dompet Dhuafa) tengah membangun BMT (Baitul Maal wa Tamwil)? Diklat disiapkan, transfer manajemen pun disempurnakan dengan sistem magang. Dana awal juga disalurkan, agar BMT bisa bangkit memberikepercayaan pada masyarakat. Bahkan BMT yang telah berdiri, juga akandigembleng lagi dalam program MDP (Management Development Program). Sebab, DD tak lain juga merupakan BMT. Dengan harapan kalau BMT juga bisaberperan seperti DD, manfaatnya masya Allah.

Pengelola BMT, jelas merupakan para amil. Kalau dalam menarik simpatimasyarakat, konglomerat saja menancapkan papan bertuliskan: ''Mohon DoaRestu Anda'' di depan gedung yang tengah dibangun, salahkah BMT yang punyamisi mulya juga mohon doa?[]

Jakarta, 26 Mei 1995

eri sudewo

Kebebasan Individu Mengebiri Ekonomi Syariah

Entah kenapa, BMT (Baitul Maal wat Tamwil) yang berkiprah di lapisanbawah, tiba-tiba telah dianggap menjadi juru-selamat bagi kemiskinan.Predikat tersebut, tentu saja teramat berat. Sebab, di samping masalahnyakompleks, menanggulangi kemiskinan butuh proses panjang. Pemerintah sendirikerepotan menanganinya. Karena itu lumrah, bila kemudian BMT yang lahirdari masyarakat ikut berupaya membantu kesulitan pemerintah. Tanpaketerlibatan aktif masyarakat, mengatasi kemiskinan hanya menggantang asap.

Persoalannya, kenapa kemiskinan muncul di negara muslim? Ini, barang kali,karena sendi kehidupan ekonomi tidak dilandasi praktek ekonomi syariah.Dalam konsep makro ekonomi syariah ini, BMT cuma merupakan sebuah noktah,yakni bahwa produk bagi hasil dan tanpa bunga BMT, hanya sebagian kecildari bentuk perbankan ala ekonomi syariah.

Dalam buku Ekonomi Islam: Teori dan Praktek, Prof. MA Mannan menggariskan, jiwa ekonomi syariah ditentukan oleh etika Islam. Dari sini tampak, individu pelaku ekonomi mutlak harus beriman. Ini harus digarisbawahi. Sebab, kebutuhan individu itu sangat beragam. Sementaraketerbatasan sarana dan prasarana, menimbulkan problem ekonomi yangdilandasi benturan berbagai kepentingan individu.

Di sini etika Islam menjadi penting, untuk mengekang individu agar tidak menjadi lalim. Kalau tidak, maka seperti yang terjadi, individu menggerakkan pasar menjadi kekuatan yang tak dapat dicegah. Dan itulah kapitalisme, memberi kebebasan penuh pada individu. Tanpa iman dan tanpaetika, manusia telah menjadi homo homini lopus, manusia menjadi serigala bagi lainnya. Tujuan bukan hal penting, yang dilihat cuma apaadanya, bukan tindakan yang seharusnya dilakukan. Dan hukum pasar selalumenjadi dalih, yang akhirnya merampas segalanya.

Di antara berbagai kepentingan itu, ekonomi syariah tidak boleh berdiri netral. Harus dapat menetralisir ketamakan individu, demi kemaslahatan masyarakat. Memang, seolah-olah ekonomi syariah hanya penuh denganpembatasan hingga berkesan paradoks. Tampak betul ekonomi syariah hanya mengenai orang yang memiliki iman. Namun dengan pembatasan tersebut,ekonomi syariah justeru memiliki jangkauan yang lebih luas. Karenakeberhasilan ekonomi syariah, tidak diukur hanya dengan uang.

Konsep Hak Milik

Dalam konsep ekonomi, kapitalisme dan komunisme merupakan dua sisi ekstrim yang bertolak belakang. Kapitalisme melandaskan pada hak milik pribadi,sedang sosialis sasaran utamanya adalah penghapusan hak milik pribadi itu.Sementara ekonomi syariah, nilainya menjadi pemelihara keseimbangan dua konsep yang berlebihan itu: bahwa hak milik tetap diakui, dengan jaminan harus menjalankan pembagian kekayaan, dengan penggunaan yang berfaedahuntuk kemaslahatan masyarakat.

Dalam Islam, konsep hak milik memang unik. Allah SWT adalah pemilik mutlak segalanya (Ali Imran, 189). Manusia cuma menjadi khalifah di bumi. Dengancatatan bukan berarti segalanya hanya untuk diri Allah semata. Dalam AlBaqarah, 29, dikatakan: Dia-lah Allah yang menjadikan segala yang ada dibumi untuk kamu ... Artinya apa yang telah diciptakan, harus dimanfaatkanuntuk masyarakat. Sedang pengertian hak milik, merupakan hak untuk memilikisementara, menikmati, dan membagikan kekayaan.

Pembagian kekayaan, dapat lebih dijelaskan melalui konsep sedekah. DalamAdz-Dzariyat, 19, Allah SWT berfirman: Dan pada harta-harta mereka adahak untuk orang miskin ... bila pemahaman ini diperluas, hak tersebutmenyangkut juga pada hewan, tanaman dan lingkungan. Sebab satu tujuanekonomi syariah adalah, juga untuk kesejahteraan generasi mendatang,termasuk kelestarian lingkungan agar tak menjadi bencana di masa mendatang.

Tiga Kiat Syariah

Dalam mengatur kekayaan, Prof. MA Mannan menjabarkan melalui delapan ketentuan. Dalam kaitan ini, ada tiga kiat yang sangat perlu di singkap. Pertama, pemanfaatan kekayaan. Etika Islam tidak mengijinkan adanyakekayaan yang tidak digunakan. Sabda Rasulullah SAW: Orang yangmenelantarkan tanahnya selama tiga tahun, maka haknya atas tanah itu hilang.

Yang terjadi, banyak lahan produktif telah berubah fungsi atau malah terlantar. Ini bukan hanya memandulkan kesuburan tanah, tapi juga mempengaruhi sumber devisa negara. Sejak 1984, misalnya, dunia mengakui Indonesia bisa berswasembada beras. Namun 1994, Indonesia telah kembali mengimpor 1 juta ton beras. Malah jagung dan kedele juga masih harus import. Sementara produksi singkong, ubi jalar dan kedele terus menurun.Sebagai contoh produk singkong tahun 1993 berjumlah 17 juta ton. Namunmenurun jadi 15 juta ton di tahun 1994.

Kedua, penggunaan yang berfaedah. Kekayaan seharusnya dimanfaatkan untuk kegiatan yang berfaedah. Seperti ayat 272, Al Baqarah mengatakan: Perumpaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalahserupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir: pada tiap-tiapbutir terdapat 100 biji ...

Satu penjabaran dari ayat ini, mungkin bijak bila disentuhkan dengan DD (Dompet Dhuafa). Hanya dengan dana sekitar Rp 5 juta setiap diklat, dari tiga diklat kini telah tumbuh sekitar 50 BMT di berbagai pelosok. BMT yangterjalin dalam FES (Forum Ekonomi Syariah) ini, telah menjadi lembaga yangberperan seperti DD. Artinya dana pembaca Republika yang mengalir ke DD, Insya Allah akan berlipat ganda, sesuai dengan perkembangan BMT danpemanfaatan dana itu pada para mustahik.

Ketiga, penggunaan yang tidak merugikan. Dari riwayat Abu Hurairah ra, NabiMuhammad SAW bersabda: Kelebihan air jangan ditahan, karena akan menahan pertumbuhan tanaman (Bukhari). Artinya sifat tamak harus dicegah, untuk tak menggusur atau mencaplok usaha orang lain.

Penggunaan yang tidak merugikan, berarti menuntut kita untuk mengetahui pemanfaat dana. Dalam pemahaman ini, menjadi sangat jelas mengapa Islamsangat menentang praktek riba. Dari sisi tingkat suku bunga, semakin tinggibunga semakin orang berlomba berinvestasi. Sayangnya, jarang orang yangmenabung bertanya: Digunakan untuk apa uang yang saya tanam? Dengan dalih rahasia perbankan, bisakah dijamin uang kita tak dipakai buat usahamaksiat?

Memang ekonomi yang berkembang saat ini, tidak memperlihatkan nafas syariah. Dalam sisi pemanfaatan dana, tampak sekali modal swasta takdigunakan untuk kepentingan masyarakat. Seperti dilansir banyak media, pemakaiannya justru kerap merugikan masyarakat. Niat baik buat renovasipasar lama, misalnya, akhirnya tumbang karena adanya oknum yang bermain. Pertumbuhan super market yang hanya dimiliki segelintir orang,mengalahkan hajat hidup orang banyak yang berjualan di pasar tradisional.

Kebebasan individu jelas telah memperkuat diri sendiri, dengan praktek monopoli yang mengarah pada kartel. Kepengecutannya tampak dengan menguasai pasar, untuk tak disaingi orang lain. Pemilikan tanpa batas, membuat sikaya menjadi lebih kaya. Sedang si miskin, hanya dengan mengurangi konsumsi hari ini, mereka dapat bertahan hidup. Bahkan untuk makan saja, terpaksaharus menjadi TKW ke negeri orang. Ekonomi kapitalis semakin jelassosoknya: menakutkan, membahayakan, bahkan mengancam masyarakat untuk dapatmeraih penghidupan yang lebih baik.

Dengan tujuan hanya untuk uang, kapitalisme tidak bisa memberi harapan masa depan pada masyarakat. Sedang ekonomi syariah, tegas-tegas membatasi individu. Bahwa uang dan pasar, hanya merupakan bagian yang mempengaruhi tumbuhnya perekonomian. Sebab cita-cita ekonomi syariah adalahkesejahteraan untuk masyarakat kini dan mendatang termasuk lingkungan.

Jakarta, 23 Juni 1995

Eri Sudewo

Dendam Sosial, Siapa Betanggung Jawab?

Awalnya, DD (Dompet Dhuafa) cuma berupaya menyalurkan dana ZIS kepada kalangan dhuafa. Meski telah diduga dhuafa merupakan masalah dahsyat, toh DD tetap terhenyak. Siapa sangka, dana Rp 1 miliar lebih yang disalurkan selama 2 tahun, seolah-olah cuma menggarami air laut.

Akar persoalan sebenarnya menyangkut kontradiksi kebijakan itu sendiri. Political will yang sudah jadi slogan umum, semakin memprihatinkan dengan tak sinkronnya action will. Pemilikan dan pengolahan tanah yang menyangkut hajat hidup orang banyak digusur karena kepentingan sepihak. Sedang yang digusur itu merupakan tanah sawah irigasi yang bendungannya didanai pinjaman luar negeri.

Dalam kondisi begini, entah harus dimulai dari mana penyadarannya. Hampir di seluruh lapisan masyarakat terjadi penjarahan harta yang bukan haknya. Istilah KUHP (kasih uang habis perkara) dan UUD (ujung-ujungnya duit) mencerminkan kondisi masyarakat kita yang sudah sakit. Buat mengurus KTP saja di Jakarta butuh biaya sekian puluh bahkan ratus ribu. Biaya sertifikat tanah lebih gila lagi. Tak mampu bayar siap-siap jadi milik orang lain. Mau menggugat silakan, asal tahu biayanya.

Dengan serba uang seperti itu yang paling menderita adalah kalangan miskin. Dan bagi kalangan bawah ini menimbulkan trauma yang sangat dalam. Tak ada tempat mengadu, dan tak ada yang membantu. Lembaga yang seharusnya mengayomi rakyat dijadikan alat untuk mengesahkan pengambilan haknya.

Sedikit demi sedikit tapi pasti kebencian mulai tertanam di kalangan masyarakat bawah. Seirama dengan itu, mereka menyaksikan betapa pembangunan ini telah memakmurkan sebagian masyarakat. Tanpa sadar gaya hidup yang telah makmur ini membuat kesenjangan makin lebar. Karena tersisih tanpa sadar pula kebencian itu semakin menggumpal menjadi sebuah dendam sosial.

Dendam sosial cuma merupakan hasil ketidakadilan. Cirinya mudah dilihat. Begitu ada kerusuhan maka terjadi penjarahan harta atau perusakan harta orang-orang yang kaya. Lihat saja kerusuhan saat pertunjukan grup Metalica di Lebak Bulus awal 90-an. Yang jadi korban adalah toko, rumah dan mobil-mobil mewah. Atau kalaupun isu SARA meletup kerusuhan, ujung-ujungnya pasti terjadi perusakan pada harta orang-orang kaya.

Rasulullah SAW telah memperingatkan umat Islam tentang hal ini, ''Kemiskinan, kebodohan dan penyakit, merupakan musuh Islam. Ketiganya dapat menggoyah sendi kehidupan, menghancurkan ketentraman, menghalangi ukhuwah, serta meruntuhkan kemuliaan dan kejayaan bangsa,'' (Bukhari-Muslim).

Dalam Islam kiat penanggulangan kemiskinan sebenarnya sudah banyak diungkap. Coba saja simak, di hari raya Idul Fitri umat dituntut menyerahkan zakat fitrahnya. Pada Idul Adha, bagi yang mampu dianjurkan untuk berkurban. Dan bagi yang kaya wajib hukumnya berzakat. Sementara infak atau sedekah dianjurkan untuk setiap muslim.

Zakat misalnya, diwajibkan agar umat serius menangani kemiskinan. Bila tidak diwajibkan Islam khawatir kalangan miskin akan terus menderita. Karena wajib, zakat punya peran sebagai pilar pembangunan ekonomi rakyat. Secara fungsional zakat memiliki dua dimensi. Pertama adalah dimensi ekonomi, yakni kewajiban untuk mengeluarkan sejumlah uang. Kedua merupakan dimensi sosial yang tak kalah penting dengan dimensi ekonomi.

Di Indonesia umat kita baru masuk dalam tahap dimensi ekonomi. Itu juga masih dalam skala kecil. Seperti di DD, contohnya, dalam 3 tahun ini baru tercatat donatur kurang dari 11.000 orang. Dan perlu diingat, sebagian merupakan donatur tetap tiap bulan. Dengan tiras Republika yang ratusan ribu menandakan masih belum optimalnya penggalangan dana ZIS.

Meski begitu, dana yang terkumpul telah mencapai total sekitar Rp 3 miliar lebih. Kendati kiprah DD seolah menggarami air laut, dana ZIS itu mampu menjawab skeptisme masyarakat. Untuk saat ini, strategi DD adalah membantu atau membangun berbagai industri kecil, seperti pabrik tahu, kerupuk atau industri lain yang padat karya. Artinya, saat masyarakat masih berandai-andai tentang potensi dana ZIS umat Indonesia, DD telah membuktikan potensi itu sedikit demi sedikit.

Namun tak berarti industri itu segera melesat. Sebab tatanan bisnis masyarakat kita saat ini dipandu oleh kiat UUD itu. Kalau tidak menguntungkan, buat apa bermitra. Kalau tidak bisa dicaplok, buat apa susah-susah dibantu. Bagi pekerja sendiri, kalau bisa dikorup kenapa mesti dijaga amanahnya.

Padahal substansi dimensi sosial zakat adalah justru mengikis rasa tamak manusia. Setelah dibantu dengan modal secara sosial kita diwajibkan membantu perkembangannya. Artinya bisa beli produk yang dihasilkan, atau bantu memasarkan. Hanya memang masyarakat kita belum sampai tahap dimensi sosial. Seperti yang kita saksikan, banyak sekali produk kerajinan rakyat dibeli setengah jadi. Lantas dengan polesan akhir, barang itu menjadi sangat menarik dan laik ekspor. Yang untung tentu bukan perajin. Sementara barang kerajinan terpajang di rumah mewah perajinnya hanya sekadar kembali modal dan sedikit laba untuk sesuap nasi. Seperti Rp 40 juta telah disalurkan DD untuk petani Lamongan tetap saja mereka miskin. Sebab harga pupuk terus membumbung, jauh di atas harga pokok yang harus di-revolving fund.

Dalam tahap dimensi sosial yang masih sebatas jargon, jangan harap kemiskinan dapat ditanggulangi. Sebab bantuan yang diberikan kerap dengan pamrih tertentu. Jangan heran, banyak terjadi Pameran Kebajikan di negeri ini. Bukankah itu menambah kadar dendam sosial? Siapa yang harus menanggulangi letupannya nanti?

Jakarta, 17 Mei 1996

Eri Sudewo

Potensi Kesenjangan

''Nggak tahu buat apa saya lahir, tiba-tiba aja ada,'' kata Mpok Anih memulai cerita. Ia lahir ditangani dukun beranak. Alas lahirnya tikar yang biasa dipakai tidur. Kecuali adiknya, tak ada yang menunggu. ''Bapak narik oplet, cari duit,'' kata mpok Anih menirukan kata ibunya menutupi ketakpedulian bapaknya. Mpok Anih bersaudara empat orang. Saat usia 6 tahun, bapaknya wafat. Sejak itu Mpok Anih sudah bantu-bantu ibunya mencuci. Di usia 15 tahun, giliran ibunya yang wafat. Praktis yatim piatu ini jadi tukang cuci mengganti peran ibunya di keluarga Suryadi, tetangga 30 meter dari rumahnya.

Setahun kemudian, Mpok Anih nikah dengan tukang batu. Tak sampai setahun, anaknya Wartini lahir. Itulah anak satu-satunya. ''Saya nggak mau seperti ibu, banyak anak. Buat makan aja, ibu musti nyuci terus. Saya baru sekali dibeliin pakaian baru di pasar Tanah Abang waktu Lebaran. Sekolah, kata ibu untuk apa. Buat cuci baju, nggak perlu bisa baca tulis,'' kata Mpok Anih lagi.

Lakon Mpok Anih, ternyata diteruskan Wartini. Di usia 4 tahun, bapak Wartini wafat. Usia 14 tahun, Wartini dikawini sopir bajaj. Setelah dapat 5 anak, bapaknya pergi dengan perempuan lain. Akhirnya, Wartini membantu ibunya mencuci baju tapi di keluarga yang lain.

Mpok Anih sebenarnya ingin lepas dari kemiskinan. Satu anak jadi kiat jitunya. Tapi toh ia tak kuasa menolak hadirnya 5 cucu. Dibilang suratan, mungkin memang sudah begitu. Buat mengubahnya ternyata tak semudah membilas pakaian kotor. ''Kenapa sih tempat ibu kerja nggak mau bantu biaya sekolah Ale?'' tanya anak laki-laki Wartini.

''Lha, emangnya elu anak dia,'' jawab ibunya. ''Saya benci Bu sama orang kaya!'' teriak Ale geram. Bibit konflik pun menyemai, menjadi jiwa dari kesenjangan.

***

Ahmad Juhaini memapah istrinya perlahan. ''Tenang Mah, aku kan di sini. Aku tungguin, jangan takut deh,'' hibur Ahmad. Meski menahan mulas, Julaiha istrinya tetap senyum. Ditemani seorang suster, Ahmad dan istrinya masuk ke dalam kamar VIP, di rumah bersalin ASIH di Kebayoran Baru, Jakarta.

''Selamat, selamat,'' ucap Bambang menjabat tangan Ahmad sambil menyerahkan kado kelahiran berupa kereta bayi dari Chicco. ''Wah sekarang dapat anak perempuan, lengkap deh. Kakaknya laki-laki, bisa jagain adiknya dong,'' kata Dewi Afiah.

''Ingat 2 anak cukup, laki perempuan sama saja,'' komentar Rini, kawan Ahmad yang lain sambil menyerahkan sepotong kertas bertuliskan: Silakan ambil perlengkapan bayi di Plaza Senayan.

Kini kedua anak itu sekolah di sebuah SD favorit. Urusan antar jemput, sepenuhnya diserahkan pada sopir. ''Pak, pak kasihani pak,'' kata seorang pengemis tua di luar kaca mobil. Setelah menerima uang logam seratus, pengemis pun berlalu diikuti pandangan kedua anak Julaiha.

''Mah, tadi Pak Dul kasih uang sama pengemis,'' adu anak Julaiha.

''Hei, Pak Dul kan saya sudah bilang, ngasih uang ke pengemis itu nggak mendidik,'' ujar Julaiha mencoba menyadarkan sopirnya. Pak Dul cuma manggut-manggut.

''Nggak mendidik gimana sih. Ngasih cepek aja pakai teori segala. Ini majikan shalat tapi koq gitu ya,'' gumam Pak Dul dalam hati.

Tanpa sadar sikap tak peduli telah ditanam. Bibit kesenjangan pun menyemai sejak dini.

***

''Nggak mau ah di pondok, maunya sekolah biasa aja,'' protes Lili pada bapaknya. ''Nanti biar kamu jadi orang shaleh, bisa ngaji dan berbakti sama orangtua,'' jelas bapaknya Lili. Maka sejak umur 8 tahun, Lili sudah dikenalkan di dunia pondok melengkapi pendidikan umumnya. Sejak di pondok, perangai Lili semakin santun. Ia tak pernah protes, apalagi marah-marah pada orangtua. Bahkan ngajinya mulai lancar. Dengan diterimanya Lili di sebuah sekolah tinggi agama Islam, seolah-olah berakhirlah tugas si bapak untuk mengantar Lili menjadi orang shaleh.

Sejak kuliah, Lili pun mulai aktif ceramah dan diskusi. Dari diskusi di kamar sampai ke diskusi antarmahasiswa, Lili terus hadir. Hari-harinya pun tak lepas dari ceramah, baik di kalangan keluarga, khutbah Jumat dan undangan. Tentu saja bapak ibu Lili sangat gembira melihat perkembangan anaknya. Hanya ketika ada permintaan untuk ceramah kemiskinan, ia menolak. ''Itu kajian yang tidak saya kuasai. Sebab, selama saya di pondok dan kuliah dulu, nggak pernah belajar tentang zakat. Nabi Muhammad SAW bilang, kan serahkan pada ahlinya,'' ujar Lili tetap semangat. Saya menatap kelu pada Lili. Dengan bekal pendidikan agama sekian lama, Lili toh tetap merasa tak mampu bicara zakat. Lantas, siapa yang seharusnya lebih pas? Sementara kesenjangan seolah tak pernah menunda waktu.

Jakarta, 13 September 1997

POTENSI KESENJANGAN

''Nggak tahu buat apa saya lahir, tiba-tiba aja ada,'' kata Mpok Anih memulai cerita. Ia lahir ditangani dukun beranak. Alas lahirnya tikar yang biasa dipakai tidur. Kecuali adiknya, tak ada yang menunggu. ''Bapak narik oplet, cari duit,'' kata mpok Anih menirukan kata ibunya menutupi ketakpedulian bapaknya. Mpok Anih bersaudara empat orang. Saat usia 6 tahun, bapaknya wafat. Sejak itu Mpok Anih sudah bantu-bantu ibunya mencuci. Di usia 15 tahun, giliran ibunya yang wafat. Praktis yatim piatu ini jadi tukang cuci mengganti peran ibunya di keluarga Suryadi, tetangga 30 meter dari rumahnya.

Setahun kemudian, Mpok Anih nikah dengan tukang batu. Tak sampai setahun, anaknya Wartini lahir. Itulah anak satu-satunya. ''Saya nggak mau seperti ibu, banyak anak. Buat makan aja, ibu musti nyuci terus. Saya baru sekali dibeli'in pakaian baru di pasar Tanah Abang waktu Lebaran. Sekolah, kata ibu untuk apa. Buat cuci baju, nggak perlu bisa baca tulis,'' kata Mpok Anih lagi.

Lakon Mpok Anih, ternyata diteruskan Wartini. Di usia 4 tahun, bapak Wartini wafat. Usia 14 tahun, Wartini dikawini sopir bajaj. Setelah dapat 5 anak, bapaknya pergi dengan perempuan lain. Akhirnya, Wartini membantu ibunya mencuci baju tapi di keluarga yang lain.

Mpok Anih sebenarnya ingin lepas dari kemiskinan. Satu anak jadi kiat jitunya. Tapi toh ia tak kuasa menolak hadirnya 5 cucu. Dibilang suratan, mungkin memang sudah begitu. Buat mengubahnya ternyata tak semudah membilas pakaian kotor. ''Kenapa sih tempat ibu kerja nggak mau bantu biaya sekolah Ale?'' tanya anak laki-laki Wartini.

''Lha, emangnya elu anak dia,'' jawab ibunya. ''Saya benci Bu sama orang kaya!'' teriak Ale geram. Bibit konflik pun menyemai, menjadi jiwa dari kesenjangan.

***

Ahmad Juhaini memapah istrinya perlahan. ''Tenang Mah, aku kan di sini. Aku tungguin, jangan takut deh,'' hibur Ahmad. Meski menahan mulas, Julaiha istrinya tetap senyum. Ditemani seorang suster, Ahmad dan istrinya masuk ke dalam kamar VIP, di rumah bersalin ASIH di Kebayoran Baru, Jakarta.

''Selamat, selamat,'' ucap Bambang menjabat tangan Ahmad sambil menyerahkan kado kelahiran berupa kereta bayi dari Chicco. ''Wah sekarang dapat anak perempuan, lengkap deh. Kakaknya laki-laki, bisa jagain adiknya dong,'' kata Dewi Afiah.

''Ingat 2 anak cukup, laki perempuan sama saja,'' komentar Rini, kawan Ahmad yang lain sambil menyerahkan sepotong kertas bertuliskan: Silakan ambil perlengkapan bayi di Plaza Senayan.

Kini kedua anak itu sekolah di sebuah SD favorit. Urusan antar jemput, sepenuhnya diserahkan pada sopir. ''Pak, pak kasihani pak,'' kata seorang pengemis tua di luar kaca mobil. Setelah menerima uang logam seratus, pengemis pun berlalu diikuti pandangan kedua anak Julaiha.

''Mah, tadi Pak Dul kasih uang sama pengemis,'' adu anak Julaiha.

''Hei, Pak Dul kan saya sudah bilang, ngasih uang ke pengemis itu nggak mendidik,'' ujar Julaiha mencoba menyadarkan sopirnya. Pak Dul cuma manggut-manggut.

''Nggak mendidik gimana sih. Ngasih cepek aja pakai teori segala. Ini majikan shalat tapi koq gitu ya,'' gumam Pak Dul dalam hati.

Tanpa sadar sikap tak peduli telah ditanam. Bibit kesenjangan pun menyemai sejak dini.

***

''Nggak mau ah di pondok, maunya sekolah biasa aja,'' protes Lili pada bapaknya. ''Nanti biar kamu jadi orang shaleh, bisa ngaji dan berbakti sama orangtua,'' jelas bapaknya Lili. Maka sejak umur 8 tahun, Lili sudah dikenalkan di dunia pondok melengkapi pendidikan umumnya. Sejak di pondok, perangai Lili semakin santun. Ia tak pernah protes, apalagi marah-marah pada orangtua. Bahkan ngajinya mulai lancar. Dengan diterimanya Lili di sebuah sekolah tinggi agama Islam, seolah-olah berakhirlah tugas si bapak untuk mengantar Lili menjadi orang shaleh.

Sejak kuliah, Lili pun mulai aktif ceramah dan diskusi. Dari diskusi di kamar sampai ke diskusi antarmahasiswa, Lili terus hadir. Hari-harinya pun tak lepas dari ceramah, baik di kalangan keluarga, khutbah Jumat dan undangan. Tentu saja bapak ibu Lili sangat gembira melihat perkembangan anaknya. Hanya ketika ada permintaan untuk ceramah kemiskinan, ia menolak. ''Itu kajian yang tidak saya kuasai. Sebab, selama saya di pondok dan kuliah dulu, nggak pernah belajar tentang zakat. Nabi Muhammad SAW bilang, kan serahkan pada ahlinya,'' ujar Lili tetap semangat. Saya menatap kelu pada Lili. Dengan bekal pendidikan agama sekian lama, Lili toh tetap merasa tak mampu bicara zakat. Lantas, siapa yang seharusnya lebih pas? Sementara kesenjangan seolah tak pernah menunda waktu.

Jakarta, 13 September 1997

BAHAYA KEMISKINAN

Dhuafa merupakan kelompok masyarakat yang telah tercabik, penuh luka. Mereka tertatih melangkah, terengah mempertahankan hidup, dan akhirnyakehabisan tenaga saat merengkuh cita-cita. Namun, benarkah cita-cita masihmenggayuti impian mereka?

Mereka memang tumbuh, tapi kerap layu hingga sukar berkembang. Kita tak bakal paham dengan lakon mereka, yang barangkali cuma indah dilantunkan dipentas sinetron. Kita juga tak mungkin bisa menuansai getar jiwa merekayang terkoyak.

Sungguh, dhuafa telah tersayat sejak masih dalam kandungan. Tangis pertamapun saat lahir, barangkali cuma sebuah gugatan. Mengapa tetesan susu yang dihirup, terasa begitu hambar. Tanpa gizi, tak ada sentuhan imunisasi, dengan pensil bekas jikapun sekolah, serta selalu saja hanya menatap kelusaat kita melahap hidangan pesta.

Sementara tengkulak, pengijon, dan rentenir, diam-diam telah melumat mereka. Akhirnya pendar mata anak-anak dhuafa, hanyalah kegetiran. Semuanya telah diremas, segalanya telah dicerabut. Pedih menatap sosok bocah dhuafa, terbalut kulit busik dengan kepala gudikan. Lantas, masihkah tersisa rasakasih, dalam lubuk hati yang telah temaram dilibas ketakpedulian selamaini?

Untaian kata di atas, dituding sebagai terlampau mendramatisir. Di satu sisi, itu harus diakui. Namun, sebatas ia harus hadir, tentu saja dramatisasi bukanlah hal tabu. Dalam konteks kemiskinan ini, nuansanya memang musti disingkap: betapa kemiskinan punya konsekuensi dahsyat, penuhderita, hingga sukar buat lepas dari jeratnya.

Orang yang belum pernah miskin, barangkali enteng saja bicara tentang kemiskinan. Dalam arti, bagaimana bisa menuansai makna miskin bila perutini tak pernah lapar, tak pernah kekurangan pakaian, atau tak pernah tercekam hanya karena tak mampu bayar uang SPP anak-anak. Lantas, kita jugatak pernah bisa merasai getarnya, sebab derita itu menjadi sempurna karenarentenir menjadi ''dewa penolong''.

''Lalu, mengikuti pikiran anda, apa kita harus miskin dulu untuk menanggulangi kemiskinan?'', tanya rekan yang bilang terlampau mendramatisir. Pertanyaan ini memang terkesan melecehkan. Artinya diskusi yang tengah dibangun, tak bakal mencapai tujuan. Sebab, sangat tampak bahwaalur berpikirnya hanya mementingkan pembahasan jargon-jargon semu. Sesuatuyang kerap diperdebatkan di setiap seminar tanpa hasil. Jadi, agaknya arifbila kita musti membatasi diskusi yang cuma indah buat melantunkan kata.

Islam sangat menentang kemiskinan. Namun Islam menuntun umatnya agar bisa merasai makna miskin. Puasa Ramadhan, misalnya, memaksa supaya tubuh ini bisa merasai ''nikmatnya'' lapar. Lantas, bila makan sehari cukup 2 kali, mengapa mulut ini tak pernah bisa berhenti makan? Kalau kita pantas dengan pakaian yang terjangkau, mengapa harus memaksa menggapai yang mewah?Artinya kalau Islam meneladani kesederhanaan, mengapa justru kita terusberlebihan?

Tuntunan agar bisa merasakan lapar dan kesederhanaan, ternyata menjadi kata kunci. Dengan lapar atau kekurangan, kita dipaksa menghayati kondisiserba sulit. Dalam posisi begitu, apapun yang diperbuat punya konsekuensi panjang. Kuli angkut beras, misalnya, dari pagi hingga malam, ia kucurkankeringat hanya untuk beberapa lembar ribuan. Sakit saja, habislah sumbernafkahnya hari itu. Jasa rentenir diterima, maka tamat riwayatnya. Inilah bahaya kemiskinan, lingkaran setan yang terus memagut. Ke manapunmelangkah, ujung-ujungnya tetap saja derita.

Dalam riwayat Bukhari Muslim, Rasulullah SAW berpesan: ''Kemiskinan, kebodohan, dan penyakit merupakan musuh Islam. Ketiganya dapat menggoyah sendi kehidupan, menghancurkan ketentraman, menghalangi ukhuwah, serta meruntuhkan kemuliaan dan kejayaan bangsa''.

Pesan tersebut, maknanya tentu saja sangat dalam. Bahwa bahaya kemiskinan tak hanya mengancam individual, melainkan juga akan melibas kehidupan masyarakat. Baik melabrak segi akidah-iman, ahlak-moral, maupun bakal merusak cara bersikap dan berpikir.

Pengangkut sampah, contohnya, akidahnya cenderung rusak karena hidup disekitar orang mampu yang aniaya. Dari bada Subuh hingga malam, peluhnya terus bercucur. Dalam pandangnya, orang-orang kaya tinggal membuang sampah sambil berleha-leha. Malah tanpa sadar, buru-buru mengusir pengangkutsampah karena bau busuk sampah.

Dalam kondisi begini, hatinya menjadi ragu akan kebijaksanaan ilahi dalam pembagian rejeki. Dalam keraguan, hatinya bertanya-tanya, kalau-kalau ada dewa penolong. Lantas jika ada yang memenuhi kebutuhan saat itu, kegamangan hatinya segera takluk. Maka, di tanah yang subur ini, ternyata banyak iman ditukar mie-instant.

Kalau imannya tetap lekat tak tergadai, kemiskinan masih akan menggedor. Perut terus merintih, memaksa pikirannya menerawang. Jika cuka sekadar mencuri, tak apalah, pikirnya. Akhirnya bisikan nurani terabaikan. Karena perut, akhirnya setiap hari pencurian semakin menjadi. Lilitan sengsaraterbukti memadamkan nilai ahlak dan moral.

Bahaya kemiskinan, terus menjalar. Pengangkut sampah yang tidak sanggup memenuhi kebutuhan keluarganya, terus membersihkan bungkus ice-cream, tulang yang masih terbalut daging, atau sisa makanan yang masih bisa dimakan. Dalam kondisi tak punya beras, bagaimana mungkin ia bisa berpikirjernih.

Akhirnya keutuhan keluarga dirongrong. Istri yang tak tercukupi hajatnya menggugat. Anak-anak pun begitu. Hubungan suami istri menjadi retak, ikatankasih dengan anak-anak turut sirna. Kemelut memaksa pikiran menjadi semakin kalut. Yang gampang, pikirnya, lari dari tanggung jawab dengan pergi meninggalkan keluarga. Atau, bagaimana kalau istri dicerai. Bahkan bila perlu, anak-anak terpaksa dikorbankan.

Firman Allah SWT: ''Janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu.Sesungguhnya membunuh mereka adalah dosa besar'' (al Isra: 31). Tapi,masihkah diragukan bila wanita terjerembab menjadi WTS karena kemiskinan? Dan di manapun, berkeliaran anak-anak tanpa dosa yang tiba-tiba telah mewarisi kemiskinan.

Serba kurang ini, jelas berimbas ke masyarakat. Jika miskin karena langkanya sumber daya alam, keamanan masih relatif baik. Namun, bila dipicu oleh pendapatan tak merata, keamanan masyarakat telah dipertaruhkan. Berita kriminal yang banyak dilansir media, menjadi bukti bahwa penyebabnya banyak berakar pada masalah perut.

Dalam keseharian, berdirinya banyak rumah megah kerap menggusur lahan satu-satunya milik orang lain. Kompleks rumah ini, tampak demikian kontras berdiri di lingkungan miskin. Tanpa disadari, arogansinya menjadi lebih kental karena tidak pernah mengindahkan tetangga. Jalan desa malah ditutup, agar warga yang lain tak leluasa hilir mudik. Bahkan, tiba-tiba saja temboktelah mengelilingi kompleks, memutus jalur transportasi dan komunikasi.

Akhirnya selama praktek ini terus berlangsung, kedengkian pasti meruyak subur. Bagi bara api, bibit kecemburuan sosial semakin memerah. Potensinya bisa meletup dan membakar apa saja. Maka, mengapa saat pertunjukan superhard-rock Metallica di Lebak Bulus, penonton malah menghancurkan banyakmobil? Juga mengapa saat pemogokan supir metro mini, justru mobil-mobilpribadi yang jadi korban? Lantas masih ingat kasus mogok kerja di Medanyang akhirnya menjadi kerusuhan sosial?

Tanpa dinyana, bahaya kemiskinan ternyata demikian terselubung. Potensinya dapat dengan mudah dimanfaatkan pihak ke-3. Seperti yang telah digerakkan PKI, ancamannya terbukti mengarah pada kedaulatan bangsa. Dalam kondisi begini, si miskin mudah dipicu untuk tak mau tahu tentang negara. Sebab, selama ini negara tak pernah mau tahu tentang nasib mereka. Negara juga takmemberi makan saat mereka lapar. Dan nyatanya, negara diam saja saat lahanhidup mereka satu-satunya terus digusur.

Jadi buat apa mereka membela, sedang orang lain tenang-tenang saja. Mengapa dituntut membela negara, sementara mereka tak pernah menikmati hasilnya. Dan memang terbukti, ada orang yang telah membela negara saat revolusi kemerdekaan, kini terlunta memedihkan.

Kemuliaan dan kejayaan bangsa, seperti yang disinggung Nabi Muhammad SAW, memang telah dicabik kemiskinan. Koyakannya juga bisa dilihat dari pengiriman TKW (Tenaga Kerja Wanita). Diakui atau tidak, harkat bangsa ini telah dipertaruhkan. Harkat bangsa terendahkan karena kita cuma punya tenaga seperti itu. Malah pengiriman TKW, juga menimbulkan soal baru. Kultur Arab yang menempatkan TKW sebagai hamba sahaya, memposisikan sebagian TKW menjadi demikian tak berdaya. Seperti pelecehan seksual dengansegala akibatnya, menjadi masalah yang akhirnya menambah derita kemiskinankeluarga TKW.

Lantas, masihkah kita menatap bahaya kemiskinan hanya dengan sekadar diskusi? Uraian di atas, merupakan sepenggal ekses dari kesulitan ekonomi. Dampaknya jelas mengalahkan fitrah luhur manusia. Akidah-iman dan ahlak-moral, akhirnya harus terbenam karena tuntutan perut. Tanggung jawabsiapakah ini? Begitu mengerikannya kemiskinan, hingga Rasulullah SAW punberdoa secara khusus: ''Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekafirandan kemiskinan''.

Jakarta, 5 Mei 1995

Eri Sudewo

Monday, September 25, 2006

ISTIGHFAR

Kata ibu, seminggu setelah lahir, saya menangis seharian. Seisi rumah jadi kalang kabut. Bapak, lantas coba-coba menyuapi pisang ambon dengan sendok. Eh, nyatanya berhasil. Setelah satu pisang habis, seketika tangis berhenti.

Sejak itu, pertumbuhan tinggi saya melewati seisi rumah. Untuk angkatan generasi saya yang lahir tahun 50-an, tubuh saya jelas tinggi. Kata ibu, ciri saya yang lain adalah diam. Hanya diam sambil mulut tak pernah berhenti mengunyah. Hmm, saya jadi malu dan selalu istighfar bila mengingatnya.

***

Hari beranjak, tinggi saya pun kini sekitar 190-an cm. Kata kakak yang jengkel, itu karena saya suka ngembat jatah makan keluarga. Adik saya bilang, saya pakai cara medisa (meleng dikit sabet).

He... he... he... memang. Apalagi waktu SMA di tahun 70-an, perut ini selalu saja lapar. Setiap malam seusai belajar, mustahil saya lelap tidur sebelum makan. Entah itu pukul 23.00 atau pukul 01.00, dapur jadi porak poranda. Nasi hanya dengan kuah gulai pun jadilah. Dan tetap saja saya sanggup melahap 2 piring sebelum tidur.

Esok pagi, pukul 05.30 saya sudah sarapan. Jangan kaget, juga 2 piring. Dengan sarapan itu, energi seolah berlipat buat sekolah. Pukul 06.00 saya sudah berjejal di bus Pelita Jaya, rute Cililitan - Lapangan Banteng. Saya tinggal di komplek Bulak Rantai Kramat Jati. Sedang SMA saya dijuluki Budhut High School. Kala itu merupakan sekolah favorit yang siswanya boleh berambut gondrong.

Pulang sekolah, pukul 14.00 saya menyantap 2 atau 3 piring. Lantas, selepas magrib, saya juga mengunyah 2 piring. Dalam sehari, total saya bisa melahap 8 - 10 piring. Itu belum termasuk makanan ekstra seperti lontong, singkong rebus atau tape yang membuat wareg. ''Istighfar, istighfar. Itu perut atau karet?'', kata kakak perempuan saya.

***

Namun setelah mahfum adab makan, nafsu makan saya hancur. Sungguh semangat ini tak lagi berkobar menghadapi makanan kegemaran saya seperti kambing guling, bakmie goreng atau sop buntut. Porsi makan saat ini, rata-rata cuma 2 kali sehari. Itu juga cuma seukuran nasi mangkuk Padang sekali makan.

Sekarang bila mau ke perhelatan, saya makan dulu di rumah. Maksudnya sederhana saja, agar nafsu makan dikekang. Sebab di perhelatan kebanyakan orang berebut makanan. Setelah mereka coba semangkuk laksa, pindah sepiring siomay. Lantas seusai sate, ganti lagi tekwan. Baru kemudian diakhiri dengan nasi. Penutupnya buah dan es krim. Terkadang masih ada yang membuka tas dan memasukkan beberapa potong kue.

Kebiasaan diam sejak kecil, ternyata bermanfaat. Saya yang tak banyak omong jadi leluasa mengamati tingkah laku orang. Saya risih melihatnya. Mereka lupa akan wajah yang ganteng dan cantik. Mereka lupa dengan pakaian indah yang dikenakan. Juga mereka lupa akan status diri. Untuk merasakan kelezatan makanan, semua jadi lupa nilai fitrah sebagai manusia.

Dalam ''kesendirian'' di tempat yang ramai, saya jadi kerap istighfar.

***

Rasulullah SAW berpesan: ''Kecilkan suapanmu. Dan jangan langsung makan 2 kurma sekaligus''. Dalam riwayat lain, Nabi yang selalu mendapat fitnah ini berujar: ''Makanlah dari makanan yang terdekat''. Lalu juga katanya, janganlah makan sambil berdiri.

Saya tergelatar memaknai hikmah Muhammad ini. Pesannya jelas, kuasai nafsumu. Jangan biarkan harga diri terkoyak hanya karena sepiring makanan. Kalau banyak makan, bagaimana bisa meresapi substansi kehidupan.

Itulah yang menghancurkan nafsu makan saya. Lalu ketika saya tak lagi makan 2 piring, baru terasa nikmatnya makan. Lantas ketika saya berbanyak lapar, terasa jiwa ini tak lagi diperbudak syahwat. Betul kata Nabi Muhammad SAW: ''Nafsu itu ada di perut dan di bawah perut.''

Ah, saya istighfar lagi bila ingat, koq dulu saya malah bangga makan banyak.

***

Jumat kemarin, saya tengah makan bersama keluarga. Tiba-tiba mpok Ayoh, tetangga belakang rumah datang sambil menangis. Anaknya dikeluarkan dari kelas saat ulangan umum. Sebab ia yang cuma buruh pencabut rumput di sebuah lapangan golf, tak mampu bayar SPP anaknya selama 3 bulan.

Selera makan saya ambruk. Astagfirullah. Ya Allah, tak terhitung nikmat yang telah Engkau berikan padaku. Saya istighfar lama sekali.

Jakarta, 14 Juni 1997